Ragam

Hilangnya Aksara Melayu dari Ingatan Generasi Milenial di Batam

Sumatrakita.com Batam – Transformasi bahasa Melayu menjadi Bahasa Nasional Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28/10/1928) mengalami pergeseran.

Pakar Bahasa dan Budayawan Provinsi Riau Abdul Malik mengatakan, bagi penutur bahasa Melayu, gejala itu tidak terlalu mengkhawatirkan karena bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu baku.

“Dengan kata lain, bahasa Melayu juga bahasa Indonesia. Yang sedikit berbeda hanya dialek atau subdialeknya saja, ” kata dia dilansir dari Liputan6.com, Sabtu 27 Oktober 2018.

Ada yang mulai terlupakan dari generasi sekarang yaitu dari penulisan huruf atau aksara Melayu yang sudah jarang digunakan.

Seperti halnya di provinsi Kepri, Batam sama persis dengan Jakarta dengan Betawinya. Banyak pendatang kemudian warganya menikah antarsuku. Di mana pun di Indonesia, kalau orang tuanya menikah antar suku, anak – anak diajarkan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia itu sudah umum.

Untuk identitasnya, Bahasa Ibu di Provinsi Kepri tidak mengkhawatirkan namun hanya dari konteks tulisan (Aksara ) seolah sudah tidak terlihat dikalangan masyarakat .

Untuk itu Pemerintah Daerah harus lebih berperan dalam membuat kebijakan terkait pengenalan aksara melayu.

“Memang harus lebih diintensifkan. Jangan asal ada saja mata pelajarannya. Juga di luar atau di dalam masyarakat mesti ada media yang menggunakan Arab-Melayu,” terang Dosen Bahasa Indonesia Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjung Pinang itu.

Jika tidak, para pelajar tak dapat menggunakan hasil belajar mereka. Pengajaran jadi tak fungsional.

Perkembangan bahasa melayu setiap zaman mengalami perubahan. Dan perubahan tersebut didasari oleh akulturasi budaya.

“Serapan dalam Bahasa melayu merupakan entinitas Perkembangan Bahasa Indonesia menjadi pondasi berdirinya sebuah Bangsa yang besar di negeri Nusantara,” ungkapnya.

Dewan Penasehat Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, bahasa dan penulisan Melayu sudah diterapkan di Batam.

“Pembelajaran Hurup Jawi (Aksara Melayu) sudah di terapkan dalam muatan lokal. Seperti halnya saya di rumah tetap menggunakan bahasa Ibu,” kata Wakil Walikota Batam itu.

Ia menjelaskan, kondisi bahasa Melayu sebagai bahasa Ibu di Kepri memiliki keragaman untuk setiap wilayah. Seperti Batam, Karimun,Lingga, dan kawasan lain di Kepulauan Riau.

Seperti halnya kata Kamu di Karimun Mike, di Pinang Batam Engkau atau Seorang

Ia mengakui dinamika perubahaan bahasa tidak bisa dipungkiri.

Sementara, khusus untuk pemerintah kota Batam bersama Lembaga Adat Melayu dan DPRD tengah menggodog Ranperda (Rancangan Peraturan Daerah) Pemajuan Budaya Melayu.

“Ranperda tersebut sedang di bahas di DPRD,” kata Amsakar.

Perda ini mengatur 12 objek pemajuan kebudayaan melayu, seperti tradisi lisan, manuskrip, cagar budaya, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, seni bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Lebih lanjut, kata dia, sebenarnya identitas Melayu di Batam sudah dibangun sejak dulu oleh masyarakat. Seperti Tugu tepak sirih dan Tugu gurindam 12. Namun sudah pada usang sekarang dan sebagian sudah hilang.

Tags
Baca Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close